APOI dan Direktorat PKPLK Bahas Penyusunan Roadmap Pendidikan Inklusif

18 October 2026 Oleh admin Uncategorized

apoi.or.id, Surabaya, 17 Oktober 2026 — Asosiasi Profesi Orthopedagogik Indonesia (APOI) Pusat bersama Direktorat Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, menyelenggarakan Workshop Penyusunan Roadmap Pendidikan Inklusif pada 15–17 Oktober 2026 di Vasa Hotel, Surabaya. Kegiatan ini mempertemukan sejumlah tokoh dan akademisi Pendidikan Luar Biasa (PLB) dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga di Indonesia.

Workshop tersebut membahas penyusunan roadmap pendidikan inklusif sekaligus sejumlah isu yang berkaitan dengan penguatan layanan pendidikan. Peserta dibagi ke dalam kelompok kerja yang mendalami empat topik: Roadmap Pendidikan Inklusif, Roadmap APOI, tinjauan kompetensi guru PLB, serta transisi pasca sekolah. Pembagian ini memberi ruang bagi peserta untuk mengkaji isu secara lebih terarah sebelum menyampaikan hasil pembahasan dalam forum pleno.

Sejumlah akademisi dan praktisi yang hadir berasal dari berbagai perguruan tinggi, organisasi profesi, serta lembaga pemerintah, di antaranya Universitas Negeri Surabaya, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Negeri Malang, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Negeri Padang, serta unsur dinas pendidikan dan lembaga terkait. Kehadiran para tokoh tersebut mempertemukan beragam perspektif dalam membahas arah kebijakan dan praktik pendidikan inklusif.
Pada kelompok kerja Roadmap Pendidikan Inklusif, peserta membahas arah dan kebutuhan pengembangan peta jalan sebagai acuan bersama bagi pemangku kepentingan. Sementara itu, kelompok Roadmap APOI meninjau arah pengembangan organisasi profesi dan kontribusinya dalam mendukung penguatan Pendidikan Khusus dan pendidikan inklusif. Dua kelompok lainnya membahas kompetensi yang perlu dimiliki guru PLB serta dukungan yang dibutuhkan dalam mempersiapkan transisi murid setelah menyelesaikan pendidikan.

Ketua Umum APOI, Prof. Dr. Sujarwanto, M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan dukungan APOI terhadap peran strategis pemerintah melalui Direktorat PKPLK dalam penyusunan Roadmap Pendidikan Inklusif. Menurutnya, APOI siap berkontribusi melalui keahlian dan pandangan para anggotanya agar peta jalan yang dihasilkan dapat menjadi arah bersama dalam memperkuat penyelenggaraan pendidikan inklusif. Dukungan tersebut mencakup upaya memastikan pembahasan melibatkan perspektif profesi dan pengalaman para praktisi di lapangan.

Pembahasan kompetensi guru PLB menjadi salah satu perhatian dalam workshop. Kelompok kerja meninjau kompetensi yang dibutuhkan untuk mendukung layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan murid, termasuk kesiapan guru dalam merancang pembelajaran, memberikan dukungan, dan bekerja sama dengan pihak lain. Hasil pembahasan diharapkan dapat menjadi bahan bagi pengembangan kapasitas tenaga pendidik dalam sistem pendidikan inklusif.

Isu transisi pasca sekolah juga dibahas sebagai bagian dari kesinambungan layanan pendidikan. Perhatian diarahkan pada persiapan murid untuk melanjutkan kehidupan setelah masa sekolah, termasuk dukungan yang diperlukan agar mereka dapat berpartisipasi dalam lingkungan keluarga, masyarakat, pendidikan lanjutan, maupun dunia kerja. Pembahasan ini menegaskan bahwa layanan pendidikan perlu mempertimbangkan tujuan dan kebutuhan murid setelah mereka menyelesaikan pendidikan formal.

Selama kegiatan, kelompok kerja melakukan pembahasan dan menyampaikan perkembangan hasil kepada forum. Rangkaian kegiatan ditutup dengan pleno untuk meninjau hasil diskusi serta merumuskan poin-poin yang akan menjadi bahan tindak lanjut. Berdasarkan agenda workshop, salah satu hasil utama yang dituju adalah tersusunnya Roadmap Pendidikan Inklusif. Pembahasan Roadmap APOI, kompetensi guru PLB, dan transisi pasca sekolah juga menjadi bahan penting yang dibawa dari forum tersebut.
Melalui workshop ini, APOI dan Direktorat PKPLK memperkuat ruang koordinasi antara pemerintah, organisasi profesi, akademisi, dan praktisi. Keterlibatan berbagai pihak diharapkan membantu penyusunan peta jalan yang dapat digunakan sebagai acuan dalam mengembangkan pendidikan inklusif secara lebih terarah dan berkelanjutan.